Terbaru

Baca dan ikuti berita-berita terbaru Seputar Malut di www.seputarmalut.com

Senin, 18 Mei 2015

Kabar Buruk Calon Ketua DPRD



SOFIFI,SM-Calon ketua DPRD Maluku Utara masih menggeliding. Informasi yang berkembang, tiga nama bersaing menduduki kursi, dan sudah diusulkan Partai Golkar ke DPP untuk disahkan. Ketiga nama itu, Edy Langkara, Rustam Conoras dan Abdul Gani Sangaji. Belakangan terjadi kabar buruk, muncul satu nama baru otomatis dua dari tiga nama sebelumnya hilang.
Nama baru yang diusulkan ke DPP Partai Golkar yakni, Kaimudin Hamzah, Sekretaris DPD Golkar, Edy Langkara, Ketua Bapilu dan Aliong Mus, adik kandung AHM, ketua DPD Golkar. Sementara dua nama yang hilang dari pengusulan yakni Rustam Conoras dan Abdul Gani Sangaji.
Menurut sumber DPD Golkar Provinsi Malut, ketiga nama yang baru diusulkan belakang yakni kaimuddin Hamzah, Edi Langkara, Aliong Mus telah diproses DPP Golkar dan Alion Mus telah ditetapkan menjadi Ketua DPRD provinsi Maluku Utara. “DPP Partai Golkar telah menetapkan Aliong Mus menjadi pimpinan DPRD Malut, berdasarkan usulan DPD Partai Golkar,” ungkap sumber itu. 

Sumber itu menjelaskan, setiap penetapan pimpinan DPRD harus mencagu pada juklak DPP Pratai Golkar. Setiap calon Ketua/Pimpinan DPRD ditingkat provinsi dan kabupaten/kota yang diusulkan harus memenuhi kriteria dalam petunjuk pelaksana (juklak) DPP Partai Golkar. Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia kepada NKRI/Pancasila dan UUD 1945, caleg terpilih, pengurus Harian Partai Golkar sesuai tingkatan, tidak pernah keluar/masuk partai politik, perolehan suara terbanyak dan berpengalaman menjadi anggota DPRD periode sebelumnya.
Sementara kata sumber, Edi Langkara merupakan salah satu nama calon yang diusulkan sejauh ini belum mengetahui hasil putusan pleno DPD Golkar Malut tentang nama yang diusulkan maupun siapa yang ditetapkan oleh DPP Golkar. Sebagai calon Ketua DPRD Malut yang direkomendasikan DPD Golkar Malut ke DPRD Provinsi untuk diproses lebih lanjut sesuai mekanisme.
Edy Langkara yang merupakan salah satu nama yang ditetapkan Partai Golkar sebagai calon ketua DPRD kepada Seputar Malut, Sabtu (7/9) kemarin mengatakan, sebagai kaders Partai Golkar ia siap menjadikan momentum ini untuk memperbaiki citra lembaga DPRD yang kini menjadi sorotan public atau stigma negative terhadap kinerja, maupun berbagai fenomena yang mengemuka dilingkungan DPRD saat ini.
Edi menyebutkan, tugas penting DPRD yang akan datang adalah harus menseriusi beberapa agenda pemerintahan daerah provinsi yang masih tertunda dan bermasalah secara hukum. Diantaranya, RTRW, sejumlah agenda strategis, Ranperda bermasalah yang belum tuntas,  RPJMD Pemerintah Daerah dan jenis turunannya yang belum diserahkan Gubernur, penguatan sistim pengawasan dewan atas kinerja pelayanan pemerintah provinsi (SKPD), merevitalisasi sistim pengendalian kebijakan pemerintah daerah terhadap sector keuangan daerah yang selama lima tahun berturut-turut mendapat opini buruk  (disclaimer) oleh BPK RI.
Ketika disinggung, terkait salah satu persyaratan Juklak, Hasan Bay yang juga Ketua DPD Golkar Tikep yang lebih berpeluang menjadi pimpinan, karena memiliki suara terbanyak. Mantan Ketua AMPI Kabupaten Halmahera Tengah ini, membenarkan dan syarat itu katanya harus menjadi bagian integral dan komprehensif dengan syarat lainya.
Namun kata Edi, syarat suara terbanyak tidak berdiri sendiri dan merupakan  solusi jalan tengah bila mana terdapat lebih dari satu orang yang memenuhi syarat sebagai Pengurus Harian pada tingkatan organisasi yang sama, berpengalaman dan pernah menjadi anggota DPRD sebelumnya ditingkatan yang sama.
Edi menjelaskan, esensi berpengalaman sesungguhnya diletakkan pada tanggungjawab politik pemerintahan, kemampuan pemimpin parlement untuk mengatur lalulintas komunikasi politik antara kedua lembaga legislative dan eksekutif, serta tentunya pertanggungjawaban terhadap partai politik dimana tempat membangun karir dan pengabdian pada rakyat dan bangsa.
Sedangkan dimensi tidak pernah keluar dari partai Golkar dan masuk partai politik lain, integritas politik partai Golkar, lebih urgensi pada kadar integritas kaders Golkar dalam pengabdiannya harus teruji, dengan berkaca pada pengalaman empiris, sehingga pada saat momentum kepentingan politik partai Golkar yang bersangkutan tidak mendistorsi kepentingan partai atau melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kebijakan partai Golkar. Selain itu pendekatan suara terbanyak secara formal lebih dimaknai sebagai standard legitimasi, namun lebih pada upaya solutif atas terpenuhinya syarat calon ketua/pimpinan lebih dari satu orang.
Menurut Edy, apabila bukan dia yang dibutuhkan Partai Golkar untuk menjadi Ketua DPRD provinsi Maluku Utara, maka ia tetap menghormati keputusan partai, mungkin ini bukan yang terbaik baginya.
Setiap kaders partai katanya, memiliki cita-cita dan obsesi karir politiknya, namun ketika pilihan itu jatuh pada kaders lain, ia berharap hendaknya keputusan itu tetap dalam sistim dan garis kebijakan Partai Golkar yang telah memiliki legal dan konstitusional.
Ditanya saat ini Edy tidak disukai AHM ketua DPD Golkar, karena rumor berkembang telah menyusun kekuatan baru dengan kelompok tertentu untuk menjatuhkan Ahmad Mus dari kursi ketua DPD Golkar Malut, Edi santai sambil tertawa dan menjawab, itu sungguh jauh dari mimpi. Dia mengatakan, dirinya tidak bermental penghianat dan telah dibuktikan, baik terhadap kepentingan organisasi maupun kepemimpinan organisasi.
Pasca paripurna penyampaian KUA-PPAS dari Gubernur, dirinya masih berkomunikasi dengan Ketua DPD Golkar, AHM, melaporkan perkembangan tugas Fraksi Partai Golkar di dewan. Menurut Edy, laporan yang disampaikan sagat direspon. ‘Saya merasa hubungan saya dengan beliau ketua DPD Golkar masih sangat baik,” katanya. 
Edy mengakui, dalam situasi dan dinamika internal Partai Golkar Malut saat ini, dirinya tidak miliki akses informasi terkini khusus mengenai agenda strategis penentuan calon ketua DPRD provinsi. Namun dia punya firasat buruk, bahwa dirinya mungkin telah difitnah oleh pihak tertentu, baik dihadapan pimpinan Partai tingkat provinsi maupun pimpinan DPP Golkar. “Bila firasat saya ini benar maka menurut saya ini mungkin cobaan dari Allah SWT untuk kesekian kalinya bagi saya, keluarga dan konstituen saya. Salam buat teman,” tandas Edy sambil merunduk. (asfa/ntm)