Terbaru

Baca dan ikuti berita-berita terbaru Seputar Malut di www.seputarmalut.com

Senin, 18 Mei 2015

Politeknik Dana Hibah Halmahera



LABUHA, SM-Beberapa kampus yang dibangun bupati Halmahera Selatan Muhammad Kasuba, dibiayai dana hibah pemerintah setempat. Kampus tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STP) Labuha, Sekolah Tinggi Agama Islam Alkhairaat (STAIA) dan Sekolah Tinggi Politeknik Halmahera. Bupati diduga memanfaatkan dana hibah untuk mengurus kepentingan tiga kampus ini.
Dalam mengurus proses pendirian maupun akreditasi tiga kampus ini, kabarnya menggunakan dana hibah Pemda yang nilai diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Namun pengelolaan dana hibah disinyalir tidak transparan dan tak merata. Modusnya, dana hibah dicairkan lewat Politeknik Halmahera, kemudian didistribusikan kepada dua kampus lain yakni STP dan STAIA.

Pengelolaan anggaran didominasi Pelaksana Harian (Plh) Ditrektur, Ota Sailaha. Anggaran tersebut tak di distribuskan kepada Program Studi (Prodi). Padahal di kampus memiliki tiga Prodi yakni, Teknologi Penangkapan Ikan dan Mesin Otomotif. Sesuai informasi, dana hibah yang dikucurkan Pemda Halmahera Selatan sudah mencapai ratusan juta. Namun masih mengusulkan lagi anggaran akreditasi sekitar Rp. 500 juta, tapi Pemda hanya mencairkan Rp. 200 juta.
Anggaran yang diusulkan untuk biaya akreditasi dan direalialisasikan Dinas Keuangan dan Pendapatan itu, belakangan diketahui sebagian digunakan membayar tunggakan gaji dosen selama dua bulan. Para dosen Politeknik Halmahera dijadikan seperti patung bernyawa. Seluruh kegiatan kampus yang terkait dengan biaya tak dilibatkan, sehingga Direktur meminta Kasuba tak boleh mengutak-atik bendahara, takut kedoknya terkuak.
Sesuai pengakuan Ketua Prodi Politeknik Halmahera, Ilham dan rekannya Julkifli, sebelum anggaran dicairkan, direktur juga pernah mencairkan anggaran anggaran pembangunan kantin kampus. Namun hanya beberapa bulan beroperasi, kantin kembali ditutup. Padahal anggaran pembangunan kantin nilainya ratusan juta rupiah. “Anggaran kantin yang dicairkan direktur dikemanakan,” tanya kedua.
Apabila dosen mempertanyakan anggaran, mereka hanya diberi penjelasan sumber anggaran. Tapi peruntukan anggaran tidak pernah dijelaskan, sehingga mereka menilai pengelolaan anggaran tak transparan. Padahal secara institusi, kampus memliki senat dan ketua Politekni terpilih, namun belum dilantik, sementara sesuai aturan Plh Direktur tak boleh lebih dari satu tahun.
Setelah dilakukan evaluasi senat, sudah ada direktur yang diangkat melalui pemilihan Plh yang baru, Ir. Syamsudin Hadi. Hingga direktur terpilih tak kunjung dilantik Ketua Dewan Pembina Muhammad Kasuba. Ilham mendesak direktur terpilih segera dilantik agar pengelolaan anggaran kampus lebih transparan. (ays/asa)